
Presiden Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono (kanan) melihat mobil listrik Ezzy II milik Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) saat peresmian Jalan Tol Surabaya-Mojokerto (Sumo) seksi IB, seksi II, dan seksi III di gerbang Tol Warugunung, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (19/12). Jalan Tol Surabaya-Mojokerto (Sumo) yang diresmikan yaitu seksi IB Sepanjang-WRR (4,3 KM), seksi ll WRR-Driyorejo (5,1 Km), dan seksi III Driyorejo-Krian (6,1 Km). ANTARA FOTO/Umarul Faruq
GOOTO.COM, Jakarta - Presiden Joko Widodo akhirnya menandatangi Peraturan Presiden terkait mobil listrik. "Sudah sudah. Sudah saya tandatangan Senin pagi," kata Jokowi, usai meresmikan Gedung Sekretariat ASEAN, di Jakarta Selatan, Kamis, 8 Agustus 2019.
Dengan penandatanganan itu, artinya beleid yang mengatur kebijakan-kebijakan terkait mobil listrik itu mulai berlaku.
Jokowi mengatakan dengan adanya Perpres ini, diharapkan industri otomotif dapat terdorong untuk segera merancang dan mempersiapkan membangun industri mobil listrik di Indonesia.
Apalagi, Jokowi mengatakan yang paling utama dari mobil listrik adalah baterai. Sebanyak 60 persen dari mobil listrik, kata dia, adalah terkait baterai. Dan Indonesia memiliki berbagai bahan untuk membuat baterai itu di dalam negeri.
"Strategi bisnis negara ini bisa kita rancang agar kita bisa mendahului membangun mobil listrik yang murah, kompetitif. Karena bahan-bahan ada di sini," kata Jokowi.
Sebelumnya, Perpres Mobil listrik ini mengalami tarik ulur yang cukup panjang. Setelah lama digodog di Kementerian Perindustrian, Perpres juga sempat tertahan di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Perpres ini diharapkan menjadi pintu awal masuknya era mobil listrik di tanah air.
Sejumlah agen pemegang merek (APM) sudah membawa mobil listriknya ke Indonesia. Ada yang listrik murni, plug-in hybrid, dan hybrid. CO-CEO PT Sokonindo Automobile Alexander Barus beberapa waktu lalu menyampaikan bahwa pihaknya menanti regulasi mobil listrik untuk pasar Indonesia. Hal tersebut berkaitan dengan rencana perusahaan untuk memproduksi atau mengimpor mobil listrik.
"Secara teknis DFSK sudah mampu memproduksi dan memasarkan mobil listrik. Karena di negara asalnya, Cina, mobil listrik DFSK sudah mulai dijual," kata Alex di sela-sela pameran GIIAS 2019 beberapa waktu lalu.
Salah satu contoh mobil listrik DFSK yang dipamerkan di GIIAS 2019 adalah Glory E3. Mobil itu murni menggunakan tenaga listrik. Tempo.co pernah menjajal mobil itu pada Senin, 5 Agustus 2019. Hasilnya, mobil itu memiliki kesenyapan yang sangat baik, tenaganya (saat kick down pedal gas) juga lebih mantap dibanding mobil dengan mesin konvensional.
Sementara itu, Managing Director of Sales Center PT Sokonindo Automobile Franz Wang mengatakan bahwa DFSK menargetkan untuk mulai menjual mobil listrik pada kuartal IV tahun ini. "Akhir tahun ini mulai dipasarkan dan dikirim ke konsumen," ujarnya.
Direktur Administration, Corporate, & External Affairs PT PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam, mengatakan industri otomotif harus positive thinking terkait rencana pengembangan mobil listrik di Indonesia. Termasuk dalam hal investasi.
"Investasi terus disiapkan, yang penting regulasinya keluar dulu. Kami positive thinking saja. Kalau bisnis itu yang penting positif thinking. Kalau bisnis, negative thinking, susah ngembanginnya," ujar Bob kepada wartawan, di Jakarta, Selasa 6 Agustus 2019.
Di pamerah GIIAS 2019, Toyota memboyong sejumlah mobil konsep ramah lingkungan. Satu di antaranya adalah Toyota Fine Comfort yang selurunya menggunakan tenaga listrik. Toyota juga sudah memasarkan mobil ramah lingkungan lainnya seperti Toyota Camry Hybrid, Toyota Alphard Hybrid, Toyota C-HR Hybrid, serta beberapa model Lexus.
Kabar bagusnya, pemilik mobil listrik bebas aturan ganjil genap yang mulai diperluas cakupannya.
KHAIRUL IMAM GHOZALI | WP