REUTERS/Mark Blinch

Terdampak Brexit, Pabrikan Otomotif Inggris Lego Saham

Sabtu, 18 Februari 2017 | 01:54

TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan otomotif lokal asal Inggris Vauxhall Motors menjadi salah satu yang terdampak dari aksi keluarnya Inggris dari Uni Eropa (British Exit) setelah General Motors Co., yang merupakan pemilik pabrikan mobil Inggris tersebut, menyatakan rencananya untuk 'melepas' kepemilikannya kepada manufaktur otomotif asal Perancis, Peugeot.

Perubahan kepemilikan tersebut nantinya akan memberikan Peugeot lima merek mobil termasuk merek Citroen dan merek model premium DS.

Sebelumnya Peugeot juga telah memproduksi kendaraannya di Inggris setelah mengakuisisi merek lini bisnis milik Chrysler, Talbot, di tahun 1978 sebelum menghapus merek tersebut untuk membangun merek dengan namanya sendiri.

Langkah yang kemungkinan ditengarai oleh hasil voting Brexit tersebut juga turut dipicu anjloknya penjualan yang dicatat oleh Vauxhall Motors akibat Brexit.

Sejak aksi Brexit, General Motors telah menanggung kerugian hingga U$300 juta menyusul melemahnya mata uang Poundsterling.

Tidak hanya itu, Vauxhall juga harus membayar lebih tinggi untuk komponen yang diimpor dari negara di luar Inggris serta merosotnya pendapatan Opel dari nilai ekspor ke Inggris terhadap 200 ribu unit setelah dikonversikan ke dalam mata uang Euro.

Para konsumen juga harus merogoh kocek lebih dalam karena meningkatnya harga jual unit guna membantu kompensasi perubahan nilai mata uang tersebut.

Vauxhall Motors tercatat telah beroperasi hampir 115 tahun dan menjadi perusahaan terbaik kedua di Inggris dengan pangsa pasar mencapai 10%. Saat ini, manufaktur otomotif lokal tersebut telah memperkerjakan 4.500 pegawai dan menyokong rantai pasokan serta 20 ribu outlet penjualan.

“Tentu saja, hal ini menjadi masalah besar karena pabrik Vauxhall Motors tidak dimanfaatkan sepenuhnya,” tutur Thomas Goettle, Automotive Head at PA Consulting di Frankfurt, Inggris.

“Namun entah pabrik yang berlokasi di Ellesmere Port atau yang berada di Luton yang akan ditutup,” tambahnya.

Pabrik Ellesmere Port yang didukung hampir 2 ribu pekerja memproduksi 120 ribu unit kendaraan dan 85% diantaranya diekspor ke negara-negara Eropa.

Ekspor mobil tersebut akan menghadapi pajak penjualan hingga 10% dari harga unit saat memasuki wilayah Uni Eropa jika Perdana Menteri Inggris Theresa May bersikeras untuk melakukan pembatasan imigrasi pekerja dari negara lain.
BISNIS.COM




Komentar