New Daihatsu Ayla di area Glamping Lakeside Resort, Ciwidey, Jawa Barat, Selasa 18 April 2017. (TEMPO/ Fery Firmansyah).

Membawa New Ayla Menembus Ketinggian

Kamis, 20 April 2017 | 08:16

TEMPO.CO, Ciwidey - Setelah memandang dari dekat New Daihatsu Ayla, khususnya varian R Deluxe 1.200 cc transmisi manual dan otomatis, kini tiba saatnya menguji performa mobil mungil ini. Beruntung, Tempo menjadi satu dari belasan jurnalis yang diberi kesempatan oleh PT Astra Daihatsu Motor (ADM) untuk mencoba seri terbaru dari low cost green car (LCGC) yang cukup laris ini. (Baca: Mencoba Rasa New Ayla, Apa Saja yang Baru?)

Yang membuat uji mengendara atau test drive ini menarik adalah medan yang tak biasa untuk mobil sekelas Ayla. Tim ADM memilih rute dari Kota Bandung menuju dataran tinggi Ciwidey di Kabupaten Bandung bagian selatan, yang memiliki jalur menanjak cukup ekstrem dan berkelok-kelok. Rupanya, kata Direktur Pemasaran Astra Daihatsu, Amelia Tjandra, rute ini menjadi ajang pembuktian kekuatan mesin baru berkode 3NR-VE 1.200 cc 4 silinder ini. "Coba saja, jangan ragu untuk mengeksplorasi performa mesin ini," kata dia.

Dengan titik pemberangkatan Stasiun Bandung pada Senin 17 April sekitar pukul 12.30 WIB, Tempo bersama dua rekan jurnalis dan didampingi oleh Head Public Relation Departement Corporate Planning Divison ADM, Agus Nardianto, mendapat kesempatan menjajal New Ayla R Deluxe 1.2 bertransmisi otomatis. Rute awal yang kami tuju ialah sebuah restoran di Jalan Pasteur, menjelang gerbang tol.

Tentu saja, siang itu rombongan kami disergap kemacetan khas kota Bandung. Tempo yang duduk di bangku belakang merasakan awalan yang kurang nyaman, lantaran agak sulit untuk masuk ke kabin. Untuk badan ukuran besar dengan tinggi 174 centimeter, ruang belakang New Ayla agak sedikit sempit. "Mungkin kalau tiga orang makin sesak nih," kata Bagus Rachmanto dari Metrotvnews.com yang juga duduk di belakang.



Sandaran kepala alias head rest di kursi belakang pun agak terlalu pendek. Meski agak sesak di kanan-kiri, harus diakui jika para teknisi Daihatsu cermat merancang silhouette New Ayla, sehingga memiliki ruang kepala atau head room yang lega di depan maupun belakang. Leg room atau ruang kaki untuk penumpang belakang pun lumayan lega, tersisa setengah kepalan tangan, saat kursi depan dimundurkan hingga mentok.

Satu poin unggul lainnya ialah sarana penyimpan barang yang cukup banyak. Bottle holder alias penyimpan botol minuman tersedia di semua panel pintu. Ada pula tatakan gelas, tersembunyi di belakang di sandaran tangan (arm rest) sopir. Tempat gelas ini agaknya khusus untuk penumpang belakang.

Mengarungi jalanan macet, performa New Ayla transmisi otomatis cukup nyaman untuk stop and go. Guncangan di bagian belakang tak terlalu berasa. Saat masuk jalan tol, dari Pasteur menuju Kopo, New Ayla mampu digeber hingga 100 kilometer per jam. Suspensi baru yang sedikit keras membuat mobil ini stabil di kecepatan tinggi. "Karena itu, New Ayla tidak lagi identik dengan mobil dalam kota," kata Agus Nardianto, yang saat itu duduk di kabin depan.

Memasuki kawasan Soreang, ibukota Kabupaten Bandung, posisi pengemudi berganti. Tempo mendapat kesempatan menjajal performa New Ayla di medan yang lebih ekstrem. Ekstrem lantaran jalanan dari Soreang menuju Ciwidey cukup sempit, menanjak, dan berkelok-kelok tajam. Bahkan ada yang belokannya membentuk sudut 180 derajat, plus tanjakan dan turunan terjal.



Namun mesin bertenaga 86 daya kuda dan torsi 108 Newton meter yang dipadukan dengan transmisi otomatis dari mobil ini agak kurang responsif, terutama setelah terpaksa mengurangi kecepatan akibat berpapasan dengan bus atau kendaraan lain di tengah tanjakan terjal. Upaya untuk mendaki jadi lebih sulit, jika posisi tuas transmisi tetap berada di posisi D4. Namun setelah tuas persneling matic dipindah ke posisi 3 dan 2, tanjakan ekstrem lebih mudah dilibas meski harus tetap membejek gas ke putaran mesin tinggi.

Kekurangan lain yang sempat Tempo rasakan ialah handling alias pengendalian. Masih sedikit terasa gejala understeer, terutama saat menemui belokan mendadak yang cukup tajam. Saat melindas jalan berbatu, getaran suspensi agak kaku, namun membuat pengendalian mobil ini lebih tegas.

Soal kenyamanan, suara mesin dan gesekan ban dengan jalan masih terdengar hingga ke dalam kabin, meski tak terlalu berisik seperti LCGC jenis lain. Ini poin plus yang menjadi keunggulan New Ayla, selain warna interior bernuansa gelap yang lux serta head unit layar sentuh plus tombol pengendali audio di lingkaran setir. Fitur ini saya rasa cukup canggih untuk ukuran LCGC.



Menempuh jarak 70 kilometer dari Bandung selama tiga jam, kami akhirnya tiba di Glamping Lakeside Resort di area Perkebunan Teh Walini, Rancabali, Ciwidey. Di kawasan ini, sekali lagi New Ayla menunjukkan kelasnya sebagai LCGC yang cukup tangguh. Jalanan berkerikil dilalui dengan mantap dan kini, kelokan khas pegunungan bisa dilalui dengan lebih mudah lantaran tak terhalang oleh kendaraan lain di arah berlawanan.

Dengan banderol Rp 142 juta untuk transmisi manual dan Rp 146 juta untuk versi matic, New Ayla R Deluxe bisa menjadi pilihan untuk LCGC yang tahan mengarungi segala medan. Dan agaknya, citra LCGC sebagai mobil murah sedikit demi sedikit pudar setelah menjajal varian ini.

FERY F

Baca juga

Daihatsu Luncurkan New Ayla, Apa Kelebihannya?
Model Baru Ayla dan Agya, Layak Dibeli? 
Mencoba Rasa New Ayla, Apa Saja yang Baru? 
Brio Satya Jadi Varian Honda Terlaris

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 






Komentar