Wakil Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor Henry Tanoto (kaos biru) mengemudikan New Toyota Agya TRD 1.200cc bertransmisi otomatis di Surabya, 19 Mei 2017. Tempo/Wawan Priyanto.

Sensasi First Drive New Toyota Agya Bermesin 1000 cc

Minggu, 21 Mei 2017 | 12:58

TEMPO.CO, Surabaya - Seperti biasa, udara panas menyambut saya ketika mendarat di Bandara International Juanda, Surabaya, Jumat pagi, 19 April 2017. Saya dan sejumlah jurnalis dari media nasional langsung keluar dari bandara, menuju ke parkiran kendaran. Di sana, kami disambut enam unit mobil Toyota Agya terbaru. 

Lima unit bermesin 1.200cc dan satu unit bermesin 1.000cc. Saya dan rombongan jurnalis dari Jakarta, di tambah sejumlah jurnalis dari media lokal di Surabaya, untuk pertama kalinya menjajal Toyota Agya terbaru dengan rute, Surabaya-Madura-Surabaya selama dua hari. Acara ini diselenggarakan PT Toyota Astra Motor (TAM) untuk menguji ketangguhan mesin serta kenyamanan pada Toyota Agya terbaru. 

Baca:  Satu Bulan Diluncurkan, Toyota Agya Terjual 5.000 Unit 

Toyota Agya merupakan mobil yang berada di segmen Low Cost and Green Car (LCGC). Versi terbaru dari mobil ini diluncurkan pada pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS) di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, 7 April 2017. 

Banyak perubahan signifikan yang dilakukan pada New Toyota Agya. Salah satunya di sektor mesin. Toyota menawarkan dua pilihan mesin pada Toyota Agya, yakni mesin berkapasitas 1.000 cc dan 1.200 cc. Toyota mengklaim mesin baru pada Toyota Agya ini lebih bertenaga, responsif, dan irit bahan bakar. 

Baca:  New Toyota Agya Meluncur, Simak Spesifikasinya 

Di hari pertama, Tempo (bersama M. Lutfhi Andika dari Detik.com dan Ajeng dari Investor Daily) berkesempatan menjajal performa Toyota Agya tipe G bermesin 1.000 cc dan bertransmisi manual. Terus terang, awalnya sempat ragu dengan kemampuan mesin 1.000cc. Apalagi di dalam mobil diisi tiga orang (Tempo bersama rekan dari Detik.com dan Investor Daily). "Yah, kita dapat yang mesin 1.000 cc," kata Luthfi. 

Saya justru senang karena memang penasaran dengan ubahan yang dilakukan TAM pada mesin ber-cc paling kecil ini. Apalagi dari obrolan dengan petinggi-petinggi TAM, 95 persen konsumen Toyota Agya terbaru lebih memilih yang bermesin 1.200 cc. Alasannya, karena Toyota Agya 1.000 cc dianggap kurang bertenaga. 

Baca: Model Baru Ayla dan Agya, Layak Dibeli? 

Nah, saat berjalan beberapa kilometer dan mobil mulai masuk jalan tol dari arah Bandara Internasional Juanda menuju Soto Cak Har, tempat kami sarapan, anggapan mesin 1.000 cc tak bertenaga itu sirna. Saya malah mengira mobil yang kami coba adalah bermesin 1.200cc. "Salah nih, mas. Jangan-jangan ini Toyota Agya yang mesinnya 1.200cc," ujar Luthfi sambil sedikit berdebat. 

Di lokasi sarapan, Manager Technical Service Division TAM Didi Ahadi memberikan penjelasan tentang ubahan yang dilakukan Toyota pada mesin Toyota Agya. Mesin 1.000cc sebetulnya berbeda dengan mesin pada mobil yang sama generasi sebelumnya. 

Baca:  New Toyota Agya Punya 4 Fitur Keamanan Baru 

Pada model terbaru, mesin 1.000 cc telah dilengkapi dengan teknologi VVT-i. Tenaga yang dihasilkan juga lebih besar, yakni 67PS pada 6.000 rpm. "Tenaga ini lebih besar dibanding mesin di model terdahulu yang hanya 65,3PS pada 6.000 rpm," kata Didi di Soto Cak Har, Surabaya, Jumat, 19 April 2017. 

Bagaimana dengan performa mesin ini? Tenaga yang lebih besar dibanding model terdahulu memang membuat sejumlah perubahan data pada akselerasi. Untuk model baru, dari titik 0-100 kilometer dapat ditempuh dengan waktu 13,79 detik (model terdahulu dengan mesin yang sama sekitar 14,8 detik). Saat Tempo melintasi Jambatan Suramadu, di lintasan lurus dan lengang, Toyota Agya 1.000cc dapat digeber hingga jarum speedometer melewati angka 140 kilometer per jam. 

Pada mesin 1.200cc, Toyota melengkapinya dengan Dual VVT-i. Teknologi ini juga digunakan pada model Toyota lainnya seperti Toyota Kijang Innova, Toyota Avanza, Toyota Rush, dan Toyota Cayla. Mesin Toyota Agya 1.200cc mampu menghasilkan tenaga 88PS. Tenaga besar ini disalurkan ke roda penggerak depan melalui pilihan transmisi manual dan otomatis. 

Soal performa, Toyota Agya memang jauh lebih bertenaga dibanding yang bermesin 1.000cc. Akselerasi mesin empat silinder ini dari 0-100 kilometer per jam dapat ditempuh dalam waktu 14,7 detik (otomatis) dan 12,3 detik (manual). Tenaga mesin yang lebih besar ini juga diantisipasi Toyota dengan menambah ukuran diameter rem cakram depan menjadi 13 inci. "Pengereman menjadi lebih solid dan tentunya menambah keamanan," tuturnya. 

Untuk performa mesin ini, lanjut Didi, Toyota telah melakukan serangkai test dan komparasi dengan kompetitor. "Hasilnya, Toyota Agya terbaru ini lebih hemat 8 persen dibanding kompetitor dalam hal konsumsi bahan bakar," ujarnya. 

Selain penggunaan VVT-i, lanjut dia, Toyota juga membuat mesin 1.000cc, 3 silinder, ini juga minim getaran. Yakni dengan membuat engine mounting lebih kuat dan tebal sehingga getaran dari kinerja mesin dapat diminimalisasi. Hasilnya, suara berisik mesin di dalam kabin juga dapat ditekan. "Improvement juga dilakukan dengan menambah peredam di balik plafon (atap)," ujarnya. 

Dari data yang dirilis TAM, kadar bising model terbaru ini memang diklaim lebih minim. Toyota Agya 1.200cc memiliki tingkat kebisingan 61,7 Db pada kecepatan 60 kilometer per jam (gigi tiga), dan turun menjadi 61,3 Db saat mobil melesat di kecepatan 80 kilometer per jam lebih (gigi empat ke atas). Saat posisi idle dan AC dalam keadaan menyala, tingkat kebisingan di dalam kabin turun menjadi 49 Db dan saat AC dimatikan, turun lagi menjadi 41 Db. 

Di mesin 1.000cc, tingkat kebisingan saat mobil melaju di kecepatan 60 kilometer per jam mencapai 62 Db. Angka ini lebih baik dibanding model terdahulu yang sebesar 62,8 Db. Saat melaju di kecepatan 80 kilometer per jam ke atas, turun menjadi 62,3 Db (model terdahulu 63,4 Db). Saat idle dan posisi AC menyala, tingkat kebisingan di dalam kabin mencapai 50,2 Db (model lama 50,9 Db), sedangkan saat idle dan AC menyala sebesar 45 Db (model lama 48,6 Db). 

Dalam perjalanan dari Surabaya menuju Madura, Didi kebetulan berada dalam satu mobil dengan Tempo. Dia secara gamblang menjelaskan ubahan-ubahan yang dilakukan Toyota pada model terbaru Agya. 

Usai bicara tentang tingkat kebisingan yang minim, Tempo terus terang sedikit terganggu dengan suspensi yang keras, terutama di suspensi belakang. Hal ini kami tanyakan langsung kepada Didi yang duduk di bangku belakang. 

Setiap kali mobil melintas di jalanan berlubang atau di melewati speed bump, bantingan cukup terasa keras. Didi menjelaskan, pada suspensi belakang ini sebenarnya telah dilakukan ubahan yang cukup signifikan, yakni dengan menambah stabilizer. "Fungsinya untuk menjaga mobil lebih stabil saat bermanuver pada kecepatan tinggi," katanya. 

Bantingan keras pada suspensi belakang ini ditutupi dengan desain jok yang nyaman. Penggunaan jok semi bucket dengan bantal yang lebih tebal dan empuk memang menyajikan rasa nyaman dalam berkendara. 

Perjalanan dari Surabaya menuju bukit kapur, Bukit Jaddih, di Madura, sekitar 2 jam. Setiba di Madura, perjalanan menuju lokasi tambang batu kapur yang kini juga menjadi obyek wisata itu tidak semuanya melalui jalanan mulus. Kami sempat nyasar menyusuri jalanan sempit di antara persawahan. Beberapa kali kami harus berjalan pelan dan sedikit menepi saat harus berpapasan dengan kendaraan lain. Tapi inilah untungnya mengendarai mobil berukuran mungil, jalanan sempit pun bukan menjadi kendala berarti. 

Memasuki kawasan wisata Bukit Jaddih, kami keluar dari jalanan aspal dan berganti ke jalanan tanah tandus berdebu. Kiri kanan jalanan yang kami lalui merupakan danau biru, bekas galian tambang batu kapur. 

Di lereng bukit, sejumlah alat berat dan truk-truk besar melakukan aktivitas penambangan. Di danau-danau bekas tambang itu kini menjadi obyek wisata murah meriah di Madura. Wisatawan dapat menikmati keindahan batu kapur melalui perahu yang sengaja disediakan di danau. 

Di tempat ini, juga telah diramaikan dengan sejumlah pedagang cindera mata khas Madura. Menjelang pukul 2 siang, kami bergegas kembali ke Surabaya. Memasuki Surabaya sudah menujukkan pukul 16.00 WIB. Jam sibuk, bertepatan dengan jam pulang kerja. 

Bodi mungil Toyota Agya kembali diuji, melibas jalanan macet di sore hari di Surabaya. Performa mesin saat dalam keadaan stop and go juga bisa diandalkan. "Yang di belakang nyaman, AC juga dingin," kata Ajeng yang sepanjang hari pertama duduk di bangku penumpang belakang. 

Kursi bagian belakang memang cukup mendapatkan tanggapan dari konsumen. Toyota Agya yang berdimensi mini dianggap terlalu sempit untuk menampung lima orang dewasa. Memang, soal leg room ini relatif ukurannya mobil kecil. Dengan posisi kursi baris kedua yang statis (tidak bisa diatur maju mundur), tentu akan menyulitkan bagi mereka yang berpostur tinggi besar. 

Wakil Direktur PT TAM Henry Tanoto yang hadir langsung mengikuti test drive memberikan tanggapan bahwa Toyota Agya didesain untuk mampu menghadirkan kenyamanan dalam berkendara. "Meski mungil, mobil ini cukup nyaman untuk dikendarai, tentunya penumpang (belakang) juga nyaman," ujar Henry yang turut mengemudikan Toyota Agya TRD 1.200cc bertransmisi otomatis. 

WAWAN PRIYANTO 




Komentar